Kamis, 02 Mei 2013

SARASEHAN “PEMUDA BALI BERSUARA UNTUK KEADILAN DAN HAK ASASI MANUSIA”


Senin, 29 April 2013 sekitar jam 2 sore, Wantilan Gedung DPRD Provinsi Bali dipadati oleh ratusan pelajar SMP, SMA, Mahasiswa dari seluruh Bali. Tampak juga hadir beberapa tokoh, seperti Dr. Shri  I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III (President The Sukarno Centre), Br. Indra Udayana (Pengasuh Ashram Gandi Puri), dr. Wayan Sayoga (Ketua Yayasan Anand Ashram).  Semuanya berkumpul untuk  satu tujuan, yakni menyuarakan tegaknya keadilan hukum dan hak asasi manusia di Indonesia, dimulai dari Bali.
Sarasehan “Pemuda Bali Bersuara untuk Keadilan dan HAM” yang digagas oleh Aliansi Pemuda Bali untuk Indonsia Jaya ini dilatarbelakangi oleh kegelisahan beberapa pemuda Bali melihat maraknya fenomena kekerasan, ketidakadilan hukum di Indonesia sebagai sebuah negara hukum, serta merajalelanya pelanggaran HAM.  Ketua Panitia, I Gede Landep meyampaikan, “Tujuan kami adalah untuk memberikan satu contoh, kami berani bersuara, kami berani melakukan sesuatu, dalam artian kami tidak pasrah! Kami yakin kami mampu untuk melawan ketidakadilan di negeri ini.”
Acara yang berlangsung selama 3 jam ini menghadirkan Haris Azhar dari KONTRAS dan Inayah Wahid, koordinator  gerakan pemuda “Positive Movement”. Sebagai keynote speaker, Dr. Shri  I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III.

Dr. Wedakarna mengawali sambutannya dengan 3 kali pekikan MERDEKA! yang diikuti dengan penuh semangat oleh hadirin. Dalam sambutannya, ia mengingatkan kembali bahwa hampir semua bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia, didirikan dan diinisiatifkan oleh anak-anak muda. “Bangsa Indonesia penuh dengan jiwa-jiwa muda. Namun setelah zaman reformasi, orang muda kehilangan tauladan.. Banyak orang menganggap gerakan kepemudaan adalah gerakan sampingan, bukan sebuah inti dari perjuangan bangsa. Di zama reformasi kita telah kehilang jati diri. Satu-satunya harapan dari Indonesia hanya ada di Pulau Bali karena Bali adalah api dari Pancasila. Di Bali tidak ada kerusuhan berbau sara, tidak ada gerakan intoleransi, jadi secara de facto anak-anak muda Bali adalah anak-anak ideology Pancasila!” tegasnya.
Menghadapi berbagai fenomena kekerasan, terutama yang membawa nama agama, berbagai kasus pelanggaran HAM, Dr. Wedakarna menegaskan kepada seluruh pemuda Bali agara menjadi orang yang pemberani dan percaya diri. Karena jiwa puputan itu mengalir dalam darah setiap orang Bali. “Di Indonesia tidak ada mayoritas, minoritas. Yang membedakan adalah ada orang berani dan ada orang yang tidak berani. Ada safety player, ada ksatria yang gagah berani,” lanjutnya. Ia menyayangkan begitu banyak tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh ashram yang menjadi safety player, yang hanya ingin mencari selamat, “Tidak ada tokoh seperti Bapak Anand Krishna yang berjuang dengan mati-matian.” Pria kelahiran 23 Agustus 1980 pada kesempatan ini juga memberikan dukungan kepada Anand Ashram dan juga National Integration Movement (NIM) dan seluruh jaringan yang ada, bahwa rakyat Bali, umat Hindu Indonesia selalu berada di belakang perjuangan Bapak Anand Krishna. Walaupun kini Bapak Anand Krishna sedang di penjara, namun jiwanya tetap merdeka. Dan jiwa merdeka ini, terutama pada anak-anak muda, harus terus bergerak, bergotong royong, berani bersuara, menyuaraka kebenaran, karena negara Indonesia ini sudah di ambang kehancuran.
Haris Azhar, Ketua Badan Pekerja KONTRAS, menyampaikan dalam 2 tahun terakhir telah terjadi lebih dari 3200 kasus kekerasan di Indonesia. Namun hampir dari semua kasus tersebut tidak dibongkar atau pun diselesaikan secara tuntas. Adapun yang dibongkar dan dianggap selesai, namun tak satu pun yang memberikan keadilan kepada korban.
 Menurutnya, ada berbagai perasaan yang terlibat dalam tindak kekerasan, yang pertama mungkin kita bagian dari kekerasan itu; kedua, mungkin kita setuju, tapi tidak berani melakukan kekerasan;, ketiga, kita tidak setuju, tapi juga tidak berani mengintervensi atau melakukan sesuatu untuk mencegah kekerasan terjadi; keempat, kita menolak atau tidak setuju dan juga berani mengatakan tidak pada kekerasan. Namun, dari 1 -4 tetaplah memproduksi kekerasan. Kekerasan sudah menyasar siapa pun dan bisa dilakukan oleh siapapun.
Ada berbagai macam bentuk tindak kekerasan, termasuk kekerasan simbolik yang mampu menyerang integritas diri seseorang. Ia khawatir kekerasan sudah menjadi budaya di Indonesia. Azhar melihat Bali bisa menjadi inspirasi atau contoh bagi masyarakat Indonesia bagaimana cara meghormati perbedaan sehingga tidak terjadi kekerasan. Dalam melawan kekerasan, tidak melulu harus dari ranah politik, namun bisa dari level budaya, perkawanan. Tak heran Soekarno muda mampu memerdekakan Indonesia. Karena anak muda bisa mengobrol secara informal, bisa memecah kebuntuan, punya keasyikan, segala sesuatu tidak harus diukur dengan kekuasaan dan uang. “Kita tidak pernah tahu seberapa efektif langkah yang kita ambil untuk bisa menghentikan kekerasan, namun saya berharap teman-teman muda Bali disini bisa menjadi tokoh anti kekerasan, tidak hanya di Bali, tapi juga di Indonesia,” tutup Haris Azhar dalam pemaparannya.
Inayah Wahid membuka sesinya dengan sebuah permainan yang membuat hadirin dapat saling berkenalan satu sama lain. Putri bungsu Presiden RI ke-4, K.H. Abudurrahman Wahid ini juga bercerita kisah hidupnya sejak kecil yang sering mengalami kekerasan dengan bullying hingga terror yang sering diterimanya saat ayahnya menjadi presiden. Hal seperti ini sungguhlah menyakitkan. Namun banyak orang yang hanya diam karena tidak mengalaminya dan merasa bukan urusannya. Inayah mengingatkan, tanggung jawab kitalah sebagai anak muda untuk memutus kekerasan ini agar tidak terus ber-reproduksi. Semuanya harus dimulai dari diri sendiri. “Tidak perlu menunggu terjadinya perubahan, namun perubahan diciptakan dimana Anda berdiri saat ini, ketika Anda bergerak, bersuara untuk memutuskan dan menghentikan kekerasan. Jangan bergerak dengan kemarahan karena Anda akan jadi membabi buta, apa bedanya dengan mereka yang melakukan kekerasan? Bukan balas dendam, tapi ketika anda sudah mulai bergerak, bersandarlah pada kebebasan. Bebaskanlah diri Anda dari kekerasan. Karena hanya orang yang bebas yang mampu membebaskan orang lain.”
Acara sarasehan semakin hangat, dengan pemutaran video “Last Man Standing” yang menceritakan kronologis berbagai kekerasan yang dilakukan pihak-pihak yang ingin membungkam pemikiran dan suara Bapak Anand Krishna akan nilai-nilai cinta kasih, perdamaian dan keharmonisan, sejak awal tahun 2000 hingga tahun 2013. Ber-refleksi dari tayangan video ini, sangat tepat pesan Soekarno yang dikutip oleh Dr. Wedakarna, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Dalam Sarasehan ini juga telah dideklarasikan “International Interfaith Youth Forum” dan penandatanganan “Resolusi Indonesia Jaya” oleh seluruh peserta sarasehan, para narasumber, dan para tokoh. Sarasehan semakin meriah dengan persembahan sebuah tari dari Ashram Gandhi Puri dan lagu-lagu dari tim musik Aliansi Pemuda Bali Dvipa untuk Indonesia Jaya berjudul “Sekuat Rajawali” dan “Bangkitlah Wahai Satria!”

*Report by: Mirah, Krishna & Fera
Pic by Gede Diarta
Posted by Raysuvana

Senin, 15 April 2013

Focus Group Discussion - "Bali Under Attack"


Focus Group Discussion  
Jumat, 12 April 2013
Tempat: Aula Universitas Dwijendra Denpasar
Tema diskusi: Bali Under Attack
Acara:
1.        Perkenalan latar belakang berdirinya Aliansi Pemuda Bali untuk Indonesia Jaya oleh Ketua I Gede Landep dan tujuan diadakannya diskusi : Ketua Aliansi juga memperkenalkan bahwa penahanan Bapak Anand Krishna adalah salah satu latar belakang bergabungnya rekan-rekan dari beberapa Universitas di Bali untuk bersuara dan melakukan pergerakan. Selain itu karena milhat Bali dalam situasi yang memprihantinkan dan dalam ancaman yang nyata dan tidak nyata.
2.        Acara di moderator oleh I Nyoman Surpa Mahasiswa dari Jurusan Hukum Agama di IHDN
3.        Diskusi di isi oleh rekan-rekan dari VSI yang memaparkan tentang situasi Bali yang teracam dari berbagai bidang, baik ekonomi, konversi agama, urbanisasi, masalah remaja dan pumuda, terorisme, kriminalitas, dll.
4.        Diskusi juga di isi oleh Raysuwana yang memaparkan kasus Bapak Anand Krishna melalui video singkat yang berisi kronologi kasus.
5.        Diksusi dihadiri oleh beberapa kampus diantaranya, perwakilan BEM dari IHDN, UNUD, STPBI( Sekolah tinggi pariwisata), Dwijendra, dan organisasi pemuda. Jumlah yang hadir saat itu sekitar 30 orang
6.        Dalam diskusi ini juga kami menyebarkan petisi Free AK ( (http://www.avaaz.org/en/petition/FREE_ANAND_KRISHNA/?pv=8 )   dan mendapat 21 penandatangan.
7.        Selain menjaring petisi kami juga menjaring volunteer yang bersedia bergabung bersama di Aliansi Pemuda Bali untuk Indonesia Jaya ini.
8.        Diskusi berlangsung selama 2,5 jam kerana banyak dari mereka yang antusias untuk mengutarakan pendapat, ada yang sharing mengenai kasus-kasus dan situasi di daerah asal mereka, ide-ide dan saran untuk pergerakan, dan apresiasi atas terbentuknya Aliansi Pemuda ini.
9.        Selain itu kami juga mensosialisasikan acara Saresehan : Pemuda Bali Bersuara untuk Keadilan dan HAM yang akan kita adakan pada tanggal 29 April 2013 bertempat di Wantilan DPRD Prov. Bali
Demikian beberapa point- point penting yang terjadi dalam diksusi pada Jumat, 12 April 2013
(Reporter: Ray)







Minggu, 14 April 2013

A Total Transformation Start from YOU(th)! (Muda, Sadar, dan Waspada)


A Total Transformation Start from YOU(th)!
(Muda, Sadar, dan Waspada)

Jumat, 12 April 2013
Diskusi terbatas “Bali Under Attack”
Aula Universitas Dwijendra Denpasar
~Raysuwana

“Tuhan tidak merobah nasibnya sesautu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya.”
~ Ir. Soekarno

Mengapa saya kembali mengutip Soekarno karena ini mengingatkan saya bahwa berkarya membangun bangsa tidak akan pernah berhenti sepanjang usia. Siapa pun yang terpanggil berkarya untuk keluarga besar bangsa. Setiap dari kita mempunyai pilihan dan kesempatan yang sama. Berkarya sesuai dengan tuntutan perubahan zaman atau perubahan masa. Sejarah akan menjadi berguna jika kita bisa belajar dan mengambil kebijaksanaannya. Sejarah sering terulang-berulang kali karena kita lupa belajar dari sejarah. Apa yang terjadi sekarang ini mungkin salah satunya adalah kita lupa belajar dari pengalaman para founding father kita dahulu. Enough is enough! Cukup sudah. Mari kita sekarang bersama- sama mengambil inisiatif untuk menjaga semangat dinamisme jiwa Muda kita yang SADAR dan Waspada.
Muda, Sadar dan Waspada
Kita berada dimana saat ini?
Apakah kemajuan teknologi, pembangunan, dan lain-lain  sudah menjadi tolak ukur kemajuan, kesadaran kita? BELUM!
Let’s back to Bali, Apa yang terjadi di Bali? Saya mencoba mengajak diri saya dan rekan-rekan untuk mulai merenungkan yang paling dekat dahulu. Ibu Bali. Apa yang sedang terjadi di Bali sesungguhnya? Pertanyaan ini mungkin akan begitu banyak jawabannya. Mulai dari  ekonomi, pariwisata, lingkungan, kemiskinan, kesemrawutan yang mulai muncul dimana-mana, kriminalitas, korupsi, pengkaplinga tanah-tanah oleh investor, HIV/Aids, pemuda, kekerasan, premanisme, adat, budaya samapai agama pun terkadang menjadi batu sandungan bagi putra-putri Bali. Sepertinya akan sangat panjang daftar permasalahan kita di Bali saja. belum jika kita melihat situasi bangsa yang lebih besar. Apakah mungkin kita menghadapi situasi bangsa jika saja di wilayah terdekat dari kita saja masih sangat kacau?
Semantara ini saya hanya ingin berbagi kegelisahan saya dahulu melihat situasi bangsa yang permasalahannya mengakar di setiap daerah-daerah di negeri ini. Kegelisahan saya pribadi bermula dari melihat berbagai kasus kekerasan atas nama agama, korupsi, tidak adanya jaminan hukum dan keadilan oleh negara yang banyak juga menimpa Prita Mulyasari, Parlin Riduansyah, Anand Krishna, dan mungkin banyak lagi yang tidak terdengar oleh telinga kita. Bagaimana oknum-oknum lembaga peradilan sampai lembaga hukum tertinggi negara pun suka “bermain-main” dengan masyarakatnya sendiri. Kasus-kasus tersebut dengan jelas memperlihatkan bahwa “negeri” ini membiarkan ketidakadilan merajalela. Ditambah lagi dengan diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang disebut dengan minoritas, padahal Bapak Bangsa Soekarno  jelas-jelas mengatakan Indonesia merdeka adalah untuk semua dan bukan untuk kelompok-kelompok tertentu. Dalam hal ini terjadinya perusakan dan penutupan paksa tempat-tempat ibadah, pelecehan terhadap faham-faham tradisional sperti kejawen, pasundan, dan tradisi-tradisi usada dan sebagainya adalah anti persatuan dan berpotensi untuk memecah belah bangsa Indonesia.
             Apa yang saya maksudkan dalam tulisan saya diawal bahwa masa Muda kita harus mengupayakan ke-SADAR-an kita sehingga kita menjadi WASPADA dengan situasi yang sedang terjadi disekitar kita. Apakah modal dan upaya yang bisa  kita sebagai pemuda lakukan, latih dan praktekkan sekarang ini?
“4S”- Sensitive, Sincerity, Solution and Skill
             Modal yang sederhana ini yang bisa kita upayakan dari sekarang, detik ini juga. Saya akan sedikit share mengenai Sensitive yang seperti apa? Peka dengan situasi diri, sekitar kita, negera dan bahkan dunia dengan segala permasalahan dan tantangan maupun hal-hal yang menyenangkan atau menguntungkan. Berkarya berdasarkan kepekaan kita melihat situasi disekitar kita.  Kedua, Sincerity ketulusan, kejujuran dan kesungguhan hati. Tanpa semua ini kita menjadi orang yang menafik. Ketiga, Solution apakah sudah cukup bermodalkan 2 hal sebelumnya? Tentu tidak. Tanpa solusi tentu kita tidak hanya akan berjalan ditempat. Mari kita diskusikan hal ini bersama-sama dalam forum-forum seperti ini. Terakhir, Skill- keahlian, keterampilan untuk menerjemahkan solusi yang untuk mengatasi permasalahan yang ada.
Mengingat kembali awal-awal pergerakan pemuda 100an tahun yang lalu seperti Indonesia Moeda. Mereka memberikan beberapa nilai penting dalam sebuah pemberdayaan pemuda yang menjadi dasar dari bangkitnya sebuah bangsa melalui pemuda dan pemudi yang siap menghadapi situasi – situasi yang ada pada zamannya. Saat ini nilai ini masih kita butuhkan dan menurut saya sangat penting untuk menjadi dasar kita hidup sebagai pemuda dan pemudi yang sedang membentuk karakternya sebagai manusia yang utuh. Nilai- nilai kehidupan sudah sangat jauh dari kehidupan kita saat ini. Saya merasakan sendiri bahwa ada hal fundamental yang belum cukup kita upayakan dalam diri kita sebagai pemuda. Saya kembali ingin memperkenalkan apa yang pemuda-pemudi pendahulu kita tanamkan sebagai dasar dalam pergerakan mereka memberdayakan pemuda-pemudi saat itu. Tiga nilai utama itu adalah
Shakti, Buddhi dan Bhakti (Sakti, Budi, dan Bakti)
Ketiga hal ini yang juga akan menjadi dasar kita untuk bersama-sama mengembangkan diri kita sebagai pemuda. Sebuah solusi bagi saya dan bangsa ini. saya berani mengatakan ini karena meraka telah membawa INDONESIA MERDEKA dengan bekal ketiga nilai-nilai hidup yang utama yang menjadi dasar mereka. 
Shakti (Sakti), kecerdasar, kekuasaan dalam artian kemampuan menguasasi diri dan mengembangkan potensi diri. Tentu dengan diasah dengan  pendidikan, pelatihan, social awareness, dll.
Buddhi (Budi), kebijaksanaan. Inilah yang menjadi nahkoda atau kemudi dalam pesawat. Budi harus menjadi sangat penting karena tidak cukup hanya menyiapkan kapal saja tetapi juga jurumudi yang kuat dan memahami seluk-beluk dan situasi lautan misalnya. Apa yang terjadi saat ini sebagian besar karena kita hanya menyiapkan kapalnya saja sedangkan hal yang paling penting yaitu jurumudi (budi) ini tidak kita siapkan, maka seperti inilah kondisi kita sekarang ini. koruptor, teroris, rampok, pencuri uang rakyat, dll. Semua itu terjadi karena tidak ada kendali alias jurumudi dalam diri kita yaitu kebijaksanaan. Tidak ada cara lain sekarang ini selain memulai dari diri kita sendiri dengan wadah bersama ini semoga kita bisa saling belajar dan mengembangkan diri kita.
Bhakti (bakti), kasih sayang kepada yang dimuliakan. Baik itu tuhan, Ibu pertiwi, orang tua. Bhaktilah yang menjadi jiwanya. Bhakti juga berarti berkarya tanpa pamrih(hanya memikirkan untung sendiri melulu), tetapi juga untuk kebaikan sesama.
Nilai-nilai ini semakin sangat relevan untuk situasi kita saat ini. tiada jalan lain selain transfomasi total dalam diri diupayakan mulai saat ini juga! Perubahan Mental/emosional, pikirian, dll harus berawal dari diri saya, anda dan kita semua. Sekarang pilihan ada di tangan anda dan saya, mau bangkit, bersuara dan deklarasikan kebangkitan kita atau hanya menunggu dan diam tergilas oleh kehancuran itu sendiri!!

Salam Transformasi Total!!

Kamis, 28 Maret 2013

Sakti, Budi dan Bakti untuk Ibu Indonesia ( Tiga dalam Tri Koro Dharmo)

 Salam Transformasi Total,

Dalam coretan ini penulis menemukan sebuah buku yang sangat luar biasa berjudul "Maju Setapak" karya Pitut Soeharto dan drs. A. Zainoel Ihsan terbitan 1981 penerbit Aksara Jayasakti. buku ini sekilas penulis jelaskan sebagai dokumentasi pergerakan organisasi perhimpunan pemuda dan pemudi pada awal pergerakan tahun 1908 hingga setelah kemerdekaan. Penulis akan mengutip tulisan ini karena menurut penulsi rekam perjuangan dan semangat saat itu sangat masih relevan dengan situasi bangsa saat ini. ada beberapa tulisan yang akan penulis kutip tanpa mengubah isi tulisan tersebut dan akan ada seri berikutnya yang menjadi dasar inspirasi penulis bahwa semangat pergerakan saat itu masih kita perlukan untuk menjadi bekal kita sebagai generasi muda saat ini. tulisan pertama berjudul 
"TIGA DALAM TRI KORO DHARMO*" oleh Mr. Sawarno Prowirohardjo
*) Tri Koro Dharmo dengan dengan Maksoednja jang Tiga, Gedenkboek jong Java, 1915-7 maart 1930, hal 15

"TIGA DALAM TRI KORO DHARMO"

Akan mengingat matinya perkumpulan kita yang sangat kita cintai, yaitu JONG-JAVA, yang sekarang sudah menjelma menjadi badan yang lebih besar, yaitu INDONESIA MOEDA, maka sepatutnyalah kita menceritakan tiga maksud yang terkandung dalam JONG-JAVA, tiga maksud yang jadi pokok perkumpulan  itu, yaitu sakti (SHAKTI),  budi (BUDDHI) dan bakti (BHAKTI). Tiga maksud itulah yang mula-mula ditanam di dalam lapangan perkumpulan kita, dan pada kemudian hari yakinlah kita, bahwa biji maksud yang tiga itu, ialah biji yang terpilih dengan kibijaksanaan dan yang pada kemudian harinya dapat menyenagkan hidupnya, lagi pula dapat menghasilkan buah yang lezat rasanya, sehingga tidak memutus hatunya saudara-saudara kita kaum muda yang memelihara tanaman itu, yaitu perkumpulan kita JONG-JAVA, alangkah kegirangan hari bapak tani, apabila tanamannya yang dipelihara dengan sepenuh-penuhnya pengharapan hatinya, tidak memperhitungkan akan susah payahnya dan jerih lelahnya mulai fajar menyingsing sehingga matahari terbenam, subur tumbuhnya dan banyak hasilnya. Demikianlah juga keriangan dan kebesaran hati kita kaum muda-muda melihat kesuburan dan kemakmuran perkumpulan JONG-JAVA yang kita dirikan itu.

Sebagai yang telah tersebut diatas JONG-JAVA mengandung tiga maksud yaitu sakti, budi, bakti. sekarang dengan sedapat-dapatnya hendak kita uraikan arti maksud yang tiga itu.

  1. SAKTI. Sakti asalnya dari perkataan syak, yang artinya "vermogen", artinya dalam bahasa Indonesia kurang lebih kekuasaan dan kecerdasan. Mengapakah biji itu yang terpilih oleh penganjur-penganjur kita yang dulu yang mengemudikan perkumpulan TRI KORO DHARMO, ditanam di dalam perkumpulan kita, mengapakah itu yang dipentingkan(dijadikan maksud yang  pertama?) Sebab sudah seharusnyalah apaabila pemuda-pemuda Indonesia hendak mengangkat derajat dan kemuliaan tanah tumpah darah kita, kita patut bersiap melakukan segala perkara yang diwajibkan atas kita, dan supaya kita dapat (mendapatlkan) sifat yang mulia itu, haruslah kita mengusahakan diri di dalam  segala ilmu kepandaian tentang badan, pikiran, dan budi pekerti. Meskipun bagaimana juga maksud kita hendak mengangkat kemuliaan tanah air kita dengan sifat budi dan bakti, tidak akan tercapai maksud kita itu, apabila tiada disertai sifat yang terutama, yaitu sakti. Apabila kita menyelidiki keadaan di kanan kiri kita, nyatalah kepada kita, bahwa tiadalah barang sesuatu yang tidak dapat dilangsungkan dengan sakti, seperti pepatah Belanda : "Kennis is macht". (Pengetahuan adalah kekuatan). Sesungguhnya bukan perkara baru kta anak-anak muda harus mengusahakan diri akan (untuk) memperoleh sifat sakti itu. Mulai pada zaman dahulu kala, ketika kemudian itu hanya bergantung atas tajamnya senjata, kaum ksatria pada waktu itu, ketika mudanya diperusahakan (diajarkan) ketangkasan dan kecerdasan  memegang senjata. Pada sekarang ini ilmu kepandaianlah yang diutamakan. Sebab itu sifat sakti itu terdapat pada barang siapa yang mempunyai banyak kepandaian. Oleh karena itu pelajarilah, hai kamu anak-anak muda, segala ilmu kepandaian apa juga, sebab hanya dengan itu kamu dapat mengangkat negeri tanah airmu.
  2. BUDI. Budi boleh diartikan dalam bahasa Indonesia : kebijaksanaan. Mengapakah kita harus mempelajari sifat itu? Kebijaksanaan itulah suatu sifat yang boleh diumpamakan kemudi di dalam pelayaran. Supaya orang selamat di dalam pelayaran tiadalah cukup menyiapkan kapal yang kuat dan sempurna pesawatnya, melainkan haruslah dikumudikan oleh jurumudi yang alim (ahli) di dalam pelayaran dan tahu seluk-beluknya lautan, supaya kapal itu jangan hancur terdampar pada karang. Begitupun juga ilmu kepandaian yang sudah kita dapat dari sifat sakti di atas itu, haruslah kita lakukan dengan budi, supaya kita dapat menyampaikan maksud kita, untuk mengangkat negeri tumpah darah kita. Adapun ilmu kepandaian yang tidak dilakukan dengan budi yang baik itu misalnya seperti pedang yang tajam pada sebelah kanan dan kirinya, dapat melukai badan sendiri. Adalah beberapa riwayat yang menyatakan beberapa bangsa yang mendapat kesengsaraan oleh karena tidak disinari dengan budi, misalnya Dasamuka di dalam hikayat Ramayana. Alengka itu, pada kemudianya hancur negerinya, sebab tersesat jalannya, oleh karena tidak menggunakan budi yang sempurna. Akan (untuk) mempelajari budi yang baik itu tidak terlalu susah bagi kita bangsa timur, sebab kita-kitab kita penuh dengan pengajaran itu, yang menyatakan bahwa sakti yang tidak bersandar atas budi itu akan membawa kita pada lumpur kesengsaraan. Apakah pokok pemgajaran budi itu? Dengan singkat boleh kita katakan : cinta kasih. jika kita selidiki betul-betul, maka nyatalah bahwa kecintaan itu pangkalnya segala perbuatan yang baik dan mulia. Misalnya perbuatan korban (pengorbanan), itu pun bersendi atas kecintaan juga. Adalah beberapa perbuatan yang terlihat dari luar seolah-olah korban (pengorbanan), akan tetapi jikalau dilihat dengan setajam-tajamnya penglihatan, nyatalah perbuatan itu bersendi atas keperluan badan sendiri, umpamanya ingin mendapat pujian, mendapat keuntungan, mendapat tambahnya kekuasaan dan lain-lainnya. Sebab itu haruslah kita ingat- ingat, janganlah kesaktian itu kita pergunakan yang tidak bersandar atas budi. Pergunakanlah kesaktianmu itu akan (untuk) melindungi bangsamu, bukannya akan (untuk) menindas, akan (untuk) mementingkan keperluan umum, tidak akan (untuk) mementingkan badan sendiri. Usahakan dirimu sedapat-dapatnya, supaya kamu dapat memberi pertolongan yang banyak, bukannya supaya kami mendapat keuntungan yang banyak. Alangkah selamat dan bahagia negeri tumpah darah kita, apabila banyak putera-putera dan puteri-puterinya, lengkap dengan kesaktian dan budi bertenaga memperbaiki nasib bangsanya.
  3. BAKTI. Bakti itu kasih sayang terhadap kepada yang dimuliakan. Jadi kecintaan kita kepada bangsa dan tanah air kita itulah bakti namanya. Mengapa kita harus mempunyai sifat bakti itu? Sebab kita akan mengerjakan pekerjaan yang bukan kepalang beratnya, akan mengorbankan tenaga, pikiran dan harta benda, yang tidak untuk keperluan badan sendiri. Sudah tentu perbuatan yang berat itutidak akan tercapai, apabila kita tidak mempunyai sifat bakti kepada negeri tumpah darah kita. Seperti kamu berbuat bakti kepada orang tuamu, kamu sanggup mengorbankan barang apa milikmu, begitulah juga hendaknya kamu berbakti kepada negeri tumpah darahmu. Ingatlah susah dan payahnya pekerjaan yang terhadap atas dirimu (kamu lakukan). Beberapa kesukaran, beberapa rintangan yang terdapat di dalam jalan yang akan kamu lalui. Tetapkanlah hatimu, jangalah takut dan was-was melalui jalan yang sukat dan sulit itu, dan kita pun yakinlah, kamu tidak akan berkecil hati melalui jalan itu, apabila itu kamu kerjakan oleh karena baktimu kepada negeri tumpah darahmu. Tidak ada sesuatu barang seberat di dalam dunia bagi barang siapa, yang penuh dengan rasa kebaktian di dalam hatinya. 
Maka dengan dengan sifat tiga perkara itu, yaitu sakti, budi dan bakti, kita anggota-anggota JONG-JAVA akan masuk ke dalam badan yang baru, ke dalam lapangan yang lebih luas, yaitu Indonesia Moeda. Dengan sifat yang tiga perkara itu, yang dulu menjadi ramuan kita yang kecil, yang dahulu bernama Tri Koro Dharmo, lalu berganti nama Jong-Java, sekarang akan menjadi ramuan rumah kita yang lebih besar dan sentosa yaitu Indonesia Moeda, yang akan menjadi pernaungan bagi bangsa kita yang sebangsa dan sebahasa, yaitu bangsa Indonesia. Kamu sekalian yang sudah pernah bekerja di dalam kalangan Jong-java, dan sudah merasakan berapa beratnya pekerjaan itu, tentu dapay menimbang alangkah lebih beratnya pekerjaan yang terhadap kepadamu (kamu lakukan) sekarang ini. Tetapi percayalah kita bahwa cakap melakukan pekerjaan yang baru itu, meskipun bagaimana sukarnya, apabila kamu tidak lupa akan pusak kita yang kita peroleh dari Maha Guru kita Tri Koro Dharmo dan Jong-Java, yaitu sakti, budi dan bakti. Kegembiraan hati yang kamu pergunakan di dalam melakukan perkerjaan Jong-java, darah muda yang mengalir di dalam badanmu ketika kamu menjadi anggota Jong-Java itu, jagalah supaya senantiasa tiada susutnya di dalam lapangan yang baru, Indonesia Moeda ini. Jikalau kamu menepati janji-janji yang tersebut diatas itu, Indonesia Raya yang kita kenang-kenangkan itu, tidak akan tinggal menjadi kenangan, hanya insya Allah akan menjadi kenyataan. Hai, putera-putera dan puteri- puteri Indonesia! Insyaflah dan dengarkanlah keluh kesah ibumu, tanah Indonesia, yang perlu mendapat pertolonganmu, dan bekerjalah sehabis-habis tenagamu (sekuat tenagamu), supaya dengan lekas tercapai cita-cita kita.


Selasa, 26 Maret 2013

Transformasi Total untuk Indonesia Jaya!

"Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya"
~ Ir. Soekarno

Pemuda dan Indonesia sudah "gerah dan panas" dengan apa yang terjadi di negeri ini. Kegelisahan dan kegerahan ini karena ketidakpedulian dan pembiaran pemerintah. Banyak terjadi kasus kekerasan atas nama agama, pelanggaran HAM dan tidak adanya jaminan dan kepastian hukum oleh negara. orang yang jelas- jelas bersalah mendapat keringanan (http://hukum.kompasiana.com/2013/03/26/vonis-rasyid-restorative-justice-yang-kebablasan-546074.html) dan bahakan bisa bebas dan orang yang sudah bebas dan tidak terbukti bersalah dipenjarakan (ada Anand Krishna contoh palibng segar- www.freeanandkrishna.com). Kami mengutip tulisan dari KOMPAS.COM http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/03/26/1/141411/SBY-Gagal-Pimpin-Indonesia-Kelompok-Cipayung-Plus-akan-Bertindak :

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai telah gagal menjalankan pemerintahan.

Selama hampir 9 tahun masa pemerintahannya, persoalan di sektor hukum, politik, ekonomi, dan sosial tidak mampu diselesaikan. Bahkan semakin massif dan parah.

Di akhir masa jabatannya, SBY pun bukannya fokus menyelesaikan itu, malahan menghabiskan waktu dan energinya untuk memikirkan partainya, Partai Demokrat.

Untuk itu, pengurus pusat Kelompok Cipayung Plus yang terdiri dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Perhimpunan Mahasiwa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia, akan berkonsolidasi guna mengambil sikap nyata terhadap permasalahan itu.

Kelompok Cipayung Plus akan mulai bertindak dari Mei 2013. Bulan Mei 2013 menjadi awal pergerakan, karena merupakan momen bagi mahasiswa menunjukan bahwa 15 tahun reformasi belum juga usai, perubahan dan pergerakan masih dibutuhkan.

“Indonesia berada di titik nadir. Sudah saatnya SBY turun karena gagal menjalankan peran dan tugas. Masyarakat pun sudah resah menuntut perubahan, sehingga kami sedang melakukan konsolidasi membangun gerakan seirama guna bersikap atas permasalahan itu. Setelah itu kami akan merangkul kelompok lain. Kami secara nyata mulai bergerak dari awal Mei seperti Hari Buruh, Hari Pendidikan hingga direspon oleh Pemerintah,” ungkap Ketua Presidium PP PMKRI Parlindungan Simarmata di Jakarta, Senin (25/3).

Menurut Parlindungan, kegagalan- kegagalan SBY adalah di sektor hukum. Para penegak hukum tidak mampu menyelesaikan kasus-kasus yang merugikan Indonesia seperti korupsi Hambalang, bail out Bank Century, BLBI, dan penyimpangan alat IT penyelenggaraan Pemilu.

Malahan sebaliknya, para penegak hukum saling tuding, menjatuhkan, menunjukan kekerasan fisik bahkan terlibat dalam pelanggaran hukum itu sendiri.

“Lalu di sektor politik, para politisi saling menjatuhkan untuk kepentingan kelompok dan dirinya sendiri, bukan masyarakat Indonesia. Proses politik seperti pemilu kada menjadi sumber konflik perpecahan antarmasyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, di sektor ekonomi, pemerintah tidak mampu menahan arus globalisasi dan kapitalisme yang menggerus budaya dan kekayaan alam Indonesia.

Akhirnya Indonesia hanya menjadi alat kepentingan asing. Kepentingan rakyat Indonesia, seperti bahan pokok, bawang, cabai meningkat tajam, sementara itu Pemerintah tidak mampu mengatasi pengangguran yang semakin bertambah.

Menurut Ketu PP GMKI Supriadi Narno, kegagalan terbesar SBY yang lainnya adalah tidak mampu melindungi hak dan kewajiban warga negara. SBY lalai dan tutup mata ketika sekelompok orang menyerbu kelompok laing dengan mengatasnamakan agama, SARA dan lainnya. Bahkan aparat keamanan pun dijadikan alat untuk menyiksa warga negara.

“Indonesia mengalami disharmoni kebangsaan yang akut. Bagimana mungkin antar kelompok masyarakat harus saling pukul karena berbeda-beda pandangan, aparat hukum bukannya sebagai penengah malah memihak satu pihak. Contoh nyata di HKBP Setu, Bekasi, kelalaian Pemerintah dalam mengontrol aparatnya. Pemerintah lebih takut kepada kelompok yang intoleran,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Ketua Presidium KMHDI I Made Bawayasa mengatakan bahwa Pemerintahan SBY tidak mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi setiap warga negara untuk menjalankan hak-haknya, yang paling mencolok adalah dalam beribadah. (Raja Eben L)

Editor: Asnawi Khaddaf

..........................
Pendapat teman-teman ini bisa menjadi bahan bagi teman di Bali untuk bekerja bekerja dan bekerja menyuarakan terus bahwa kita HARUS BERUBAH! SEKARANG ATAU HANCURLAH INDONESIA. 

BANGKIT DAN BERSUARA!
SALAM TRANSFORMASI TOTAL!